TeNTaNg DiRiKu..sunFLOWER sunBELLE...

My photo
alor sTar...., KedAh, Malaysia
add me at facebook... sunflower sunbelle @ kogelakadet@yahoo.com

Tuesday, September 15, 2009

Hikayat Sang Pohon Cantik

Nun,di sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon yang lainnya. Ia memiliki batang yang sangat lurus dan tegak, akarnya yang kukuh, serta aroma khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan. Sehingga tidaklah menjadi hairan, ramai sekali para pencari kayu bakar yang merasa tertarik kepada pohon itu. Bahkan ramai yang berniat baik untuk turut memelihara keindahan pohon itu. Dengan senang hati mereka membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.

Sering kali mereka menyempatkan diri untuk menyiraminya dengan air yang diperoleh dari lubuk bening di pinggir hutan. Semua itu mereka lakukan dengan penuh harap agar suatu saat kelak, di alam yang mulai penuh dengan kerosakkan ini, Sang Pohon Cantik akan tumbuh dengan sejuta pesona. Memberikan warna perubahan bagi siapa saja, untuk lebih mencintai lingkungan mereka dan berhenti membuat kerosakan.

Sementara bagi para penebang pohon yang liar, keberadaan pohon cantik itu sangatlah mengganggu. Mereka sedar, apabila pohon tersebut tumbuh dengan baik, maka akan banyak perhatian yang akan tertuju kepada hutan itu. Perhatian yang tentu saja membuat langkah mereka semakin sulit dalam membuat kerosakan di dalam hutan itu. Para penebang pohon yang liar itu berikrar, mereka akan memindahkan pohon cantik itu ke halaman rumah-rumah mereka. Tetapi kalau tujuan itu tidak tercapai, maka mematikan pohon itu adalah cara terbaik yang harus mereka tempuh.

Beruntung, pohon cantik tersebut mendapat penjagaan yang sangat rapi dari para pencari kayu bakar yang baik hati. Mereka secara bergiliran mengiring berjalan dengan sangat waspada agar pertumbuhan Sang Pohon terjaga . Selain itu, pohon tersebut rupanya memiliki akar yang dapat menumbuh dengan cepat. Sehingga sari-sari makanan yang ada dalam tanah dapat diserap dengan baik. Demikian juga dengan air yang ada, dapat digunakan oleh Sang Pohon untuk menampung kehidupannya.

Dipendekkan cerita,pohon tersebut telah tumbuh besar, daunnya yang rimbun menghijau membuat mata tak lelah untuk memandang, dari dahan-dahannya lahir wangian semerbak harum yang menyeliputi seluruh hutan, dan satu lagi, pohon cantik tersebut memiliki buah yang sangat manis. Selain dapat menghilangkan dahaga, juga dapat mengenyangkan para penikmatnya. Terasalah berkah Sang Pencipta bagi para pencari kayu bakar, meskipun para penebang pohon yang liar masih saja mencari helah untuk selalu menghapuskan pohon itu.


Namun, demikianlah kudrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan keadaan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh penghuni hutan. Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun kencang berhembus. Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya. Ia sekuat tenaga mengimbangi keadaan yang mana pada bila-bila masa boleh menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi.

Tetapi lama-kelamaan ia sedar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditampung oleh akar yang kuat, dan dahan-dahan yang kukuh, serta dedaunan yang dapat menahan laju dan kencangnya angin dengan sempurna. Kerana keyakinannya itulah tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sang Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah.

Sang Pucuk menari, bukan hanya mengikut arah angin, namun terkadang ia membuat gerakan yang membingungkan Sang Akar dalam mempertahankan keseimbangannya. Dan, Sang Akar pun mengeluarkan bantahannya; "Hai, pucuk. Berhentilah menari! Aku bingung melihatmu!" "Kenapa mesti bingung, Akar? Aku tahu benar situasi yang ada. Ikut sajalah!" "Bagaimana aku hendak mengikuti tarianmu, kalau kamu susah diikuti" "Percayalah, akar. Aku diatas mampu melihat semuanya. Bukan hanya batang, daun, dan kau akarku sendiri. Tetapi jarak puluhan batu di sekeliling kita pun dapat aku lihat dengan jelas" "Hai, apa salahnya aku mengingatkanmu, pucuk?" "Kau salah akar, harusnya kau ikut saja apa kataku. Kerana posisimu di bawah, dan kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini!"

"Aduhai…angkuh nian kau, pucuk! Kalaulah tak ada aku, mana mungkin kau dapat berdiri dan berada di atas sana!" "Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar, hah?!" Sang Daun menegahi suasana yang semakin panas. "Kerana dia mulai merasa angkuh, daun!" akar mengarahkan serabut akarnya kepada Sang Pucuk. "Apa urusanmu, akar?! Ikuti sajalah kataku, dan kau akan selamat" "Apakah kalian lupa, hah? Kalian itu saling memerlukan! Tidak akan ada kehidupan kalau tidak aku, kau, dan si akar itu. Sedarlah, saudaraku! kawanku!" Sang Daun kembali berkata-kata dengan perasaan yang sedih kerana pertelingkahan saudaranya sendiri.

Perdebatan demi perdebatan terus bergulir di antara keduanya. Sang Pucuk tidak merasa harus mengalah sedikit pun terhadap Sang Akar. Ia merasa bahawa ialah segalanya, dialah ketua kerana berada di tempat yang paling atas. Ia merasa ditakdirkan Tuhan untuk berada di atas dengan segala penglihatannya yang luas akan dunia ini. Ia merasa Tuhan telah memberikan kekuasaan mutlak kepadanya untuk berbuat sesuka hati. Sementara, Sang Akar merasa kecewa, Sang Pucuk telah mengambil langkah yang keliru dalam melaksanakan upaya menjaga kelangsungan hidup seluruh bagian pohon tersebut. Dan, Sang Daun yang berusaha meleraikan perdebatan itu pun tak berdaya menenangkan keduanya, meski ia tak pernah merasa lelah untuk mendamaikan perseteruan dua saudara satu tubuh itu.

Waktu yang digariskan mungkin saja telah tiba, kerana perdebatan yang berlarutan itu, Sang Akar bermalas-malasan untuk menyerap air dan zat-zat yang dibutuhkannya. Demikian juga Sang Daun, kerana kelelahan melerai perdebatan kedua saudaranya, ia lupa untuk mengolah makanan meskipun matahari terus bersinar sepanjang hari. Dan, Sang Pucuk rupanya semakin terlena. Ia tidak menyadari dua saudara dibawahnya sudah mengalami gangguan. Ia tetap berlenggok mengikuti arah angin dengan irama yang menghiburkan hatinya. Hingga tibalah saat di mana angin justeru berhembus dengan sangat perlahan.

Sang Pucuk terlena kerana desirnya, ia merasa ngantuk dan ia biarkan gerakannya yang tidak beraturan, dan ia pun mulai terpejam. Terlelap dalam tidur yang tidak disedarinya, dan angin datang menyerang. Tubuhnya terkulai. Sang Daun yang lapar tidak berdaya menahan tubuh Sang Pucuk yang datang tiba-tiba. Ia ikut terjatuh. Sementara di bawah, Sang Akar yang bermalas-malasan tidak lagi memiliki cengkaman yang kuat terhadap tanah di sekelilingnya. Sang Akar tidak berkuasa menahan tubuh kedua saudaranya yang terjatuh lebih dulu. Ia tercabut, bercerai-berai.

Beginilah akhirnya kisah pohon cantik,sebuah cerita yang menyedihkan.Para pencari kayu bakar yang baik hati bermuram durja, sementara para penebang liar bergelak tawa, "Tak perlu kita robohkan, kawan. Mereka roboh sendiri kerana permusuhan…!! " "O, bahkan tak perlu angin yang kencang rupanya…….kasihan betul….." demikianlah kata penebang pohon yang liar.

Dari sini saudara-saudaraku dapatkah kita mengambil sedikit iktibar dari cerita ini? Marilah kita jauhi permusuhan yang meleraikan silaturrahim antara kita, janganlah berdendam kerana dendam itu tidak membawa kedamaian.. saling hormat menghormati dan bersatu padulah kita agar syiar Islam dapat diteruskan dan digemilangkan.. dan agar kita tetap menjadi orang yang beriman.. InsyaAllah..

'Perumpamaan orang beriman yang berkasih sayang, dan saling rahmat merahmati dan di dalam kemesraan sesama mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota mengadu sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasainya.'


Why They Argue on Hijab?

The wearing of Hijab is the religious obligation which is ignored by Muslim women. To certain extent, some people argue that, wearing a hijab is an individual freedom. Even they know that it is compulsory to cover their aurah, but they still neglect to obey the obligation.

For one thing, there are that certain parties which are promoted the Islamic value and dignity, but they did not totally uphold what Islam had been prescribed in The Quran and The Hadith. It should be noted that, they allege that the veiling is discriminate the right of women.

Norani Othman (2006) pointed out that, "the discriminate of Muslim women through the mechanism of hijab, gender segregation and social control is sustained and reinforced in contemporary society because quite often it coincides or intersects with the postcolonial politics of cultural identity (p.89)".

Thus, for them the hijab is one of the violence which is against the dignity of women. It is because by wearing hijab, it makes a limitation in doing things.


However, they should not argue the command in the religious obligatory. More noteworthy, most of the people who assert about this issue, they used to misinterpret the meaning in the verse 26 in Surah al A'raf (Mohammad Marmaduke pickthall, 2001, p.206): The Almighty said which means: "O Children of Adam! We have revealed unto you raiment to conceal your shame, and splendid vesture, but the raiment of restraint from evil, that is best. This is of the revelations of Allah that they may remember."

Thus, from this verse they tend to translate the sentence "the raiment of restraint from evil, that is best" which refer to the "TAQWA" is vital clothe rather than the proper way of covering the aurah.

Zainah Anwar (2000) stated the following: "Sisters in Islam takes the position that the state should not use force in its desire to see women covered up. Religion depends on faith and will. Imposing laws and regulations on dressing does not necessarily lead to more piety among the believers, but instead commands compliance based on fear of the state and of Islam. This is not the right path to taqwa." (p.4)

Perhaps, they insist that what is inside in the heart is more essential in spite of the good and pious deeds. Conversely, all verses that had been revealed in the Quran have more interpretation. Its should not understand literally.

But, there are some more verses will support to one another verses in the Quran. Furthermore, they should refer how the real concept of Hijab in Islam and all the principles are clearly mentioned in the Quran and The Hadith.

In addition, a primary concern need to be noted that there are some Muslim women who refuse to wear a hijab based on the verse in the Quran especially in Surah Al Baqarah, verse 256 in which the verse said about there is no compulsion in religion. Therefore, in their interpretation, Islam does not force people to do what they did not want to do.

As far as the Islamic shari'ah is concerned, in order to understand the whole message in the Revealed Book, it is necessary to refer to the other verses. It will give understanding in comprehensively meaning in order to avoid any misinterpretation.

However, they still manage to questioning and arguing the obligation rather than to obey the commands. Some people may agree with the party who claim that Hijab is an individual freedom through their relevant proofs.

On the other hand, after seeing these arguments, there is no way that we can agree with what they say. It is because, we are Muslim and we should not tolerate on this issue. The edict of the religion we can not simply ignore it. In fact, to be a good Muslim is to obey what Islam command to do, not to against or make a confusion upon the subject matter.

Allah said in Surah At Tawbah verse 71, (Mohammad Marmaduke pickthall, 2001, p.267): Allah said, which means: "And the believers, the men and the women, are friends one of the other; they bid to honour and forbid dishonour; they perform the prayer, and pay the alms, and they obey God and His Messenger. Those upon them God will have mercy".

Hence, this verse shows that the important to obey what Allah asks us to do in order to get His blessing in worldly life as well as in the hereafter. For one thing, what is discussing here is not what they are trying to prove. But, instead of to bring back what they had been misunderstood upon the matter.

Do they really comprehend what is the meaning of hijab?. Do they really know what is the real concept of hijab in Islam and what are the reasons behind this obligation?. These are the things that need to be considered as to show that their argument is irrelevant.

According to Murtaza Mutahhari (1987) explained that, "the words hijab means covering or a veil. The Philosophy behind the hijab for women in Islam is that they should cover her body from the non mahram" (p.13). Therefore, it is obligatory to women to cover their aurah.

The relevant verses embodied to this issue such as in Surah An Nur verse 31 and Surah Ahzab, verse 59 (Mohammad Marmaduke pickthall, 2001, p. 604): Allah said, which means: "O Prophets! Tell thy wives and thy daughters and the women of the believers to Their cloaks close round them (when thay go abroad). That will be better, that So they may be recognized and not annoyed. Allah is ever Forgiving, Merciful"

As highlighted from Yusuf Qardawi (2006) pointed out, "This verse shows that to cover the aurah is compulsory upon Muslim women. Islam is already given the guideline how Muslim women should observe their way of dress" (p.45).

Thus, In surah An Nur, verse 31 and Surah Al Ahzab, verse 59 clear explained the way Muslim women should observe their dress. They need to lower their veil and this is the best way to avoid any disturbing, such as sexual harassment and getting involve in adultery.


Some people may argue that, either cover or not, women still become the victim of the rapist. So, there is useless to cover the aurah. However, it is should be noted that, the command from Allah was in the early age of the coming of Islam.

Furthermore, the obligation of wearing hijab is a dignity to women. The emergence of Islam honored the status of women. Unlike the dark ages in Arab, women were the lower status and become the servant for man (M.J Bahonar, 1988).

Perhaps, the coming of Islam gives an appreciation to women. Women require to express their thankful to Allah and should not question what Islam had been commanded to do.

Zaharuddin (2007) stated that, the obligation of hijab is differentiate between man and animal. An animal did not require to wear a clothe. It should to be noted that in Surah Al A'raf, verse 26 in the Holy Quran (Mohammad Marmaduke pickthall, 2001,p.206): The Almighty said, which means: "O children of Adam! We have revealed unto you raiment to conceal your shame and splendid vesture.."

He further highlighted that, wearing hijab is such as 'uniform' to muslim Women. It differentiates between the Muslim and non Muslim. Perhaps, this is the identity to be as a Muslim. As highlighted by Salbiah Ahmad (2007) explained that, "the 'Muslim Dress' today is powerful because of a personal identity and collective association. It is reflected the importance of religion as a basis of personal and sacred identity" (p.10).

Hence, it is clearly mentioned that wearing hijab is the Islamic identity. We need to be proud on the entitled of the identity. It is not an individual freedom, but the command from Allah. Indeed, it is important to pay particular attention, the inside pious intention is not enough. The good deeds are manifest throughout the action and personality goes hand in hand, not the good intention alone.

nasi goreng tom yam




Gambar sekadar hiasan


Bahan-bahan :
250gm nasi putih
1 sudu besar cili blend
2 sudu besar pes tomyam
3 biji bawang merah ( Tumbuk )
2 biji bawang putih ( Tumbuk )
1 biji telur
50gm isi ayam
1 batang serai dihiris halus
1 kuntum bunga kantan dihiris halus
Garam secukup rasa

Cara-cara :
1. Tumis bahan tumbuk, cili dan pes tomyam sehingga naik bau.
2. Masukkan isi ayam, serai dan bunga kantan dan tumis lagi sehingga ayam betul- betul masak
3. Masukkan garam secukup rasa dan gaul sebati, pecahkan telur dan tunggu 2 minit baru gaulkan bersama nasi putih
4. Gaul nasi sehingga sebati dengan rencah tadi.
5. Siap untuk dihidangkan.Selamat mencuba! =)

Kejar Dunia Usah Sampai Lupa Akhirat

MALAS adalah satu penyakit. Ia menimpa semua orang termasuk remaja. Malas ada bermacam ragam, ada malas belajar, malas kerja, malas bercakap, malas makan serta seribu satu macam jenis malas lagi.

Malas ada risiko dan akibatnya, tetapi apa yang menakutkan adalah kalau malas beribadat.

Akibat dan risiko malas yang lain boleh ditanggung, tetapi kalau malas beribadat tidak mampu ditanggung rasanya.

Siapa yang sanggup menanggung azab sengsara dibakar api neraka.

Perhatian kita terhadap penyakit malas ibadat amat menurun dan corot terutama terhadap anak remaja kita.

Lihat saja kalau anak kita tidak ke kelas tambahan atau tuisyen, bukan main marah kita maki dan kadang-kadang pukul mereka.

Berbanding keadaan kalau anak kita tidak menunaikan solat, puasa atau anak gadis tidak menutup aurat, tidak kita dengar suara menyuruh atau berleter.

Kadang-kadang yang kita temui apabila emak atau ayah menyuruh adalah yang tolong bela.
“Kasihan budak tu...biarlah dia tidur, di asrama tak cukup tidur...,” bela emak pada anaknya yang balik bercuti.

Kita memberi perhatian kepada pelajaran yang akan memberi skor ‘A’ dalam peperiksaan, tetapi bagi pelajaran fardu ain, kita buat tidak endah saja.

Sebenarnya ini penyuburan nilai tidak prihatin kita yang ditanamkan terhadap anak tanpa kita sedari.

Kita lebih khuatir masa depan dunia anak kita daripada masa depan agama mereka.

Dunia memang penting. Islam tidak pernah menolak dunia yang sehingga al-Quran mewasiatkan dalam firman Allah yang bermaksud:

“Carilah apa yang dikurniakan Allah terhadap perkara akhiratmu dan janganlah kamu lupa urusan dunia kamu...”

Jangan lupa dunia antara mesejnya, tetapi jangan pula leka mencari dunia sehingga lupakan akhirat, kadang-kadang bukan saja lupa akhirat, malah Allah sebagai Tuhan yang disembah pun dilupakan juga.

Memang patut kita risau kalau anak kita tidak berjaya di dunia, tetapi lebih patut lagi kita risau kalau anak ke neraka gara-gara gagal beribadat ketika di dunia.

Pesan dan motivasi anak supaya bersungguh-sungguh belajar, tetapi jangan lupa hendak berpesan kepada mereka supaya tidak mengabaikan ibadat terutama solat sebagai tiang agama.

Nabi Yaakub berpesan kepada semua anaknya sebelum wafat,

“...apakah yang kamu sembah selepas kematianku...”

Bagi yang lalai dan terlalu leka dengan dunia mungkin pesanannya sebelum mati,

“...anak-anakku apa yang akan kamu makan selepas kematianku...”

aku..tigakan cintamu......

Mengapa ku selalu tak pernah benar di mata indah mu..
Mengapa ucapanku selalu salah di tutur lembutmu..
Aku tertipu kediaman mu…yang ku anggap semuanya baik2 saja..
Ku tak menyangka di belakang ku kau tiga kan cintaku yang hanya kepada mu……..
Hanya kepada mu..
Apa yang membuat mu x pernah mengungkap isi hatimu…
Andaikan engkau tahu betapa hati ku mencintaimu………….
Aku tertipu kediaman mu yang ku anggap semuanya baik2 saja..ku tak menyangka di belakang ku kau tigakan cintaku yang hanya kepadamu..… 1 untuk ku………
Apa yang membuat mu x pernah mengungkap isi hatimu..
Andaikan engkau tahu betapa hatiku mencintaimu…..

kembali pulang......

bintang terlihat terang saat diri mu dtg..cinta yg dulu hilng kini kembali pulang, lihat lah dan mulai bernyanyi coba merangkai mimpi cinta yg dulu pergi kini dtg kembali..

wajahmu mengigatkan ku dgn kekasihku dulu...
dgn masa lalu ku..........

kekasih yg dulu hlg kini dtg kembali pulang...akan ku bawa dia terbang damai bersama bintang.
bertapa senang ku dendangkan dan takkan ku lepaskan..........

Sunday, September 13, 2009

madahku....

"Nafsu mengatakan wanita cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan wanita
Cantik atas dasar ilmu dan kepandaiannya, dan hati mengatakan wanita cantik
atas dasar akhlaknya"

"Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa"

Hadiah Terbaik
Kepada kawan - Kesetiaan
Kepada musuh - Kemaafan
Kepada ketua - Khidmat
Kepada yang muda - Contoh terbaik
Kepada yang tua - Hargai budi mereka dan kesetiaan.
Kepada pasangan - Cinta dan ketaatan
Kepada manusia - Kebebasan

" Jangan terlalu menyayangi seseorang, kelak kita akan membencinya.
Jangan pula terlalu membenci seseorang,kelak kita akan menyayanginya."